Lompat ke konten
HidroLablaboratorium hidraulika interaktif
/

Perkembangan meander

Kelokan berpindah paling cepat bukan saat ia paling tajam melainkan saat jari-jarinya sekitar dua setengah kali lebar sungainya. Lebih tajam dari itu, ia justru melambat sampai lehernya terpotong.

simulasiLintasan sungai berkelok menurut lengkung bersudut sinus
satuanSI (m)
P1,134
Rc/W2,51
λ/W11,0
ṁ0,040 W/y
lembarOC-11rev A

verifikasi

5 dari 5 pemeriksaan lolos

Nilai acuan berasal dari luar aplikasi ini. Kolom hitungan dievaluasi saat halaman digambar, jadi tabel ini ikut berubah bila modelnya berubah.

Yang diperiksaJenisAcuanNilai acuanHitunganSelisih
Sungai tanpa ayunan sudut adalah sungai lurusKonsistensi silangBatas sudut ayun menuju nol pada kurva berarah sinus1,0000001,000000< 0,0001%
Sinusitasnya hanya bergantung pada sudut ayunnya, bukan pada panjang gelombangnyaKonsistensi silangLangbein & Leopold (1966), kurva berarah sinus1,13401,1340< 0,0001%
Panjang gelombang meander kira-kira sebelas kali lebar sungainyaNilai terbitanLeopold & Wolman (1960), GSA Bulletin 71, atas lima tingkat besaran338,31m338,31mnol
Laju pindah tebing memuncak pada belokan menengah, bukan pada yang paling tajamPerilakuHickin & Nanson (1984), J. Hydraul. Eng. 110(11)11nol
Sinusitas tidak pernah kurang dari satuSifat matematisPanjang lintasan tidak dapat kurang dari jarak lurusnya11nol
  • Lintasannya dipadu berlangkah, jadi kedua panjang gelombang itu tidak dibagi persis sama halusnya

Seluruh pemeriksaan ini juga tersedia sebagai berkas uji yang dapat dijalankan sendiri dengan perintah npm test.

dasar perhitungan

θ(s) = ω cos(2π s / λ)arah lintasannya sinus terhadap jarak sepanjang lintasan
laju pindah memuncak di Rc/W ≈ 2,5; leher terpotong di bawah Rc/W ≈ 2,8
Leopold dan Wolman: λ ≈ 10,9 W^1,01

Sungai yang berkelok tidak berkelok karena ada yang menghalanginya. Lembar ini memakai lengkung bersudut sinus, yaitu bentuk yang ditemukan Langbein dan Leopold sebagai lintasan yang membelokkan arah dengan kerja paling sedikit di antara semua lintasan yang menghubungkan dua titik dengan panjang tertentu. Bentuk itu muncul sendiri pada sungai, pada aliran air lelehan di atas es, dan bahkan pada arus laut yang sama sekali tidak bertepi, jadi ia bukan hasil tanah melainkan hasil geometri. Dua angka pantas diingat darinya. Pertama, panjang gelombang meander hampir selalu sekitar sebelas kali lebar sungainya, hubungan yang bertahan dari parit selebar satu meter sampai sungai selebar satu kilometer, lima orde besaran. Kedua, kelokan berpindah paling cepat bukan saat ia paling tajam melainkan saat jari-jarinya sekitar dua sampai tiga kali lebar sungainya. Kelokan yang lebih landai belum cukup memusatkan alirannya; kelokan yang lebih tajam sudah kehilangan tenaganya sendiri karena gesekan di tikungan. Akibatnya sungai punya kecepatan berkelok yang paling disukainya, dan kelokan yang melewati ambang itu justru melambat sampai lehernya terpotong dan seluruh daurnya dimulai kembali.

rujukan

  1. 01Langbein, W.B. & Leopold, L.B. (1966). River meanders — theory of minimum variance. USGS Professional Paper 422-H.
  2. 02Leopold, L.B. & Wolman, M.G. (1960). River meanders. Geol. Soc. Am. Bull. 71, 769–794.
  3. 03Hickin, E.J. & Nanson, G.C. (1975). The character of channel migration on the Beatton River. Geol. Soc. Am. Bull. 86, 487–494.
  4. 04Ikeda, S., Parker, G. & Sawai, K. (1981). Bend theory of river meanders. J. Fluid Mech. 112, 363–377.